Orang bijaksana akan menjadi majikan dari pikirannya, orang bodoh akan menjadi budaknya - Piblilius Syrus

My Blog List

Sunday, March 25, 2012

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Nama Kelompok:
Vivian Felicia 10-043
Putri Mayritza 10-083
Yohanti  Viomanna10-109


Bagi para guru, kekuatan paedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari konsep teoritis. Teori memang merupakan sesuatu yang paling praktis. Namun, bagaimana cara guru-guru menggunakan dan memanfaatkan teori tersebut adalah paedagogi praktis. 

Beberapa guru juga tidak mempunyai paedagogi teoritis yang kuat, padahal seperti diketahui paedagoi praktis yang baik adalah guru yang mempunyai pedagogi teoritis yang kuat. Misalnya saja, dengan maraknya gaya pembelajaran student-centered, guru seakan tidak lagi bekerja atau mengajar sebagaimana mestinya. Peserta didik seperti "melayani" dirinya sendiri. Beberapa guru bahkan tidak mempersiapkan materi pelajaran untuk peserta didiknya, peserta didik mempersiapkan materi sendiri, membuat soal dan lain - lain.

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Nama Kelompok:
Vivian Felicia 10-043Putri Mayritza 10-083
Yohanti  Viomanna10-109


Bagi para guru, kekuatan paedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari konsep teoritis. Teori memang merupakan sesuatu yang paling praktis. Namun, bagaimana cara guru-guru menggunakan dan memanfaatkan teori tersebut adalah paedagogi praktis. 

Beberapa guru juga tidak mempunyai paedagogi teoritis yang kuat, padahal seperti diketahui paedagoi praktis yang baik adalah guru yang mempunyai pedagogi teoritis yang kuat. Misalnya saja, dengan maraknya gaya pembelajaran student-centered, guru seakan tidak lagi bekerja atau mengajar sebagaimana mestinya. Peserta didik seperti "melayani" dirinya sendiri. Beberapa guru bahkan tidak mempersiapkan materi pelajaran untuk peserta didiknya, peserta didik mempersiapkan materi sendiri, membuat soal dan lain - lain.

paedagogi teoritis dan prinsip-prinsip paedagogi

Paedagogi sebagai proses penyampaian pembelajaran kepada anak-anak pda dasarnya memiliki sifat-sifat paedagogi yang nantinya disebut paedagogis. Beberapa ahli menyebutkan istilah paedagogis sebagai berikut.

-Danilov (1978) : paedagogis adalah proses interaksi terus-menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan perkembangan siswa. Asimilasi pengetahuan oleh siswa berkaitan dengan antusiasme mereka untuk mengetahui deverifikasi daalam proses kerja yang intensif dan aktif.

- Alberto Garcia (2005) : paedagogis adalah tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah dimana interaksi itu dilakukan berdasarkan teori paedagogis tertentu, berorientasi pada tujuan institusional, dan dikembangkan dalam interaksi yang dekat dengan keluarga dan masyarakat untuk mencapai pembentukan siswa secara sehat.

Jika menilik beberapa definisi tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada intinya paedagogi merupakan proses  untuk mengembangkan kemampuan siswa yang pada proses tersebut institusi tempatnya belajar meliputi guru, bahkan keluarga dirumah memilliki peran dan harus saling berkaitan dan bekerja sama dalam mencapai pengembangan anak.

            Dalam proses pelaksanaannya, paedagogi sendiri memiliki prinsip-prinsip yang menjadi tolak ukur dan sandaran pelaksana paedagogi. Addine (2005) menyatakan bahwa prinsip paedagogis itu adalah kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis yang menyoroti bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju di bidang sains kontemporer dan korespondensi total dengan ideology kita. Karenanya apapun yang didapatkan anak pada proses pembelajarannya diharapkan dapat berguna buat bekal kehidupannya di masa depan.
           
            Beberapa prinsip mengenai paedagogi adalah mengombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan , serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya harus adanya kesatuan pengajaran, pendidikan dan proses perkembangan pada kegiatan pembangunan. Dan prinsip bahwa masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.

Sunday, March 18, 2012

Paedagogi dan Paradigma Belajar

Paedagogi atau pendidkan untuk anak bukanlah suatu hal yang sederhana. Anak-anak masih belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk langsung mengetahui dan mencerna informasi-informasi yang didapatkannya dari lingkungan. Karenanya pengajar baik guru di sekolah maupun orang-orang di sekitarnya harus memiliki kemampuan untuk memfasilitasi anak dan pengetahuan baru yang didapatkannya.
Pendidikan untuk anak tak bisa dilepas dari peran sekolah atau lembaga pnyelenggara pendidikan untuk anak lainnya. Para pengajar yang bertanggung jawab untuk mentransfer ilmu pada anak-anak yang masih harus mendapat bimbingan penuh dalam proses menyerap ilmu ini harus memiliki kualifikasi yang tepat dalam srategi pembelajarannya.
Strategi pembelajaran itu akan berbeda-beda pada tiap guru, dikarenakan paradigma belajar yang berbeda pula. Paradigma sendiri adalah cara dan pola yang mendasari pemahaman, penilaian, peraturan dan pedoman dalam mengerjakan sesuatu. Sesuatu yang kita maksud kali ini adalah belajar. Jadi paradigma belajar yang berbeda pada tiap guru akan menghasilkan strategi belajar yang berbeda pula berdasarkan kondisi kelas dan situasi serta fasilitas yang ada.
Strategi pengajaran dalam suatu kelas paedagogi yang beragam pada dasarnya mengacu pada lima strategi berupa pelatihan, ceramah, mengembangkan ketrampilan berpikir melalui pemesahan kasus, membuat kelompok dan tim, serta membawa anak terjun langsung kelapangan dan merefleksikan pembelajaran yang telah didapat.
Paradigma yang memiliki visi dan tujuan yang jelas membuat guru yang melakukan paedagogi dituntut untuk lebih aktif dan kreatif untuk membuat proses transfer ilmu pengetahuan berjalan dengan baik dan efektif untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan tiap siswa.


Danim, Sudarwan, (2010), Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta
www.tuanguru.net



Sunday, March 11, 2012

Seni dan Ilmu Mengajar

Seni dan Ilmu Mengajar

Dikatakan bahwa mengajar merupakan seni dan ilmu dalam mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu.

Mengapa disebut seni?

Dan mengapa pula disebut ilmu?

Jika didefinisikan satu persatu, seni sendiri merupakan keahlian untuk membuat karya yang bermutu. Dan ilmu sendiri adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat menjelaskan suatu gelaja dalam bidang ilmu pengetahuan.

Bisa kita cerna bahwa mengapa mengajar membutuhkan seni dan ilmu, karena dalam mentransformasikan bahan ajar, diperlukan keahlian, kekahlian untuk membuat peserta ajar menjadi bermutu melalui pengetahuannya. Membuat mereka menjadi seseorang bermutu tentu membutuhkan cara yang berbeda-beda dan kompleks karena pada dasarnya manusia adalah kompleks. Suatu cara mengajar kepada satu peserta ajar belum tentu cocok saat diberikan kepada yang lainnya. Karenanya dibutuhkan seni daalm metode pentransformasiannya. Seni kreatif penuh improvisasi untuk membuat suasana kelas tidak datar, sehingga bisa terjalin keterikatan emosi antar semua orang dalam kelas, hingga pengajar dapat memberikan motivasi dan dorongan dengan mudah serta efektif kepada peserta ajar.  
Begitu pula dengan ilmu, mengapa mengajar merupakan ilmu, karena dalam mengajar dibutuhkan pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai bahan ajar, pengetahuan mengenai peserta ajar, hingga pengetahuan mengenai situasi belajar. Maka pada saat terjadi proses pentransformasian bahan ajar itu sendiri, tidak hanya semata-mata memberikan bahan ajar, tapi bagaimana pengajar dapat mengemasnya dengan seni dan ilmu yang tepat agar sampai tepat sasaran pula kepada peserta ajar yang bersangkutan. Pengajar hendaknya merupakan orang berilmu dan dapat menghargai keunikan tiap peserta ajar dalam kelasnya. Dikatakan bahwa pengajar berilmu harusnya mencerminkan keterpelajaran, integritas pribadi dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siswa. Dengan demikian diyakini bahwa proses transformasi pengetahuan akan lebih efektif terjadi.

Pada awal memasuki kelas paedagogi semester ini, tiba-tiba peserta kelas paedagogi ini “diolahragakan” dengan permainan lempar-tangkap bola sembari menyatakan alasan kenapa memasuki kelas paedagogi. Terlihat simpel namun sudah terlihat bahwa ada seni dalam pelaksanaannya. Tidak hanya sekedar berdiri satu-persatu, menyatakan alasan, kemudian kelas monoton karena semua saling bosan menunggu selesainya “ritual” tersebut. Kemudian dalam segi ilmu, kelas mulai dikembangkan dengan komunikasi via chat dalam berbagai website. Tiap orang dituntut memiliki ilmu dalam teknologi dan komunikasi. Semua peserta terlibat dalam pencarian ilmu untuk menggunakan system chat tersebut, sehingga kembali ada hal-hal baru yang didapat oleh tiap peserta, juga pengajar.

Karenanya, jelas harus ada seni dan ilmu dalam mengajar.












Danim, Sudarwan, (2010), Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta
Powered by Blogger.