Orang bijaksana akan menjadi majikan dari pikirannya, orang bodoh akan menjadi budaknya - Piblilius Syrus

My Blog List

Monday, September 23, 2013

KAITAN KULIAH ONLINE DENGAN TEORI BELAJAR AWAL



Anggota Kelompok :


TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
            Di awal abad ke 20 , disiplin psikologi yang baru terbentuk mencari sebuah arah. Pengkondisian refleks dalam eksperimen Bekheterev dan Pavlov telah merefleksikan adanya relasi natural antara stimulus dan refleks yang terasosiasikan dapat diubah. Riset ini telah memuat asumsi bahwa sebab-sebab dari perilaku yang kompleks akan dapat diutarakan. Adanya pelatihan refleks untuk merespon stimulus baru membutuhkan pemasangan berulang kali antara stimulus dan stimulus yang secara alamiah menujukkan refleks. Stimulus yang dikondisikan (CS) akan menimbulkan respons yang dikondisikan (CR) dan kondisi inilah yang disebut pengkondisian klasik.
            Dalam pengkondisian klasik ini juga dapat terjadi dalam suatu proses belajar yang kita jalani sehari-hari diruangan kelas. Biasanya para mahasiswa akan terlihat cenderung memberikan respon membosankan dan tidak menarik apabila menanggapi segala sesuatu yang berbau “belajar” . Para pelajar cenderung tidak menyukai suatu pelajaran apalagi pelajaran yang tidak menarik dan hanya terbatas pada ruangan kelas padahal suatu proses belajar haruslah menyenangkan agar suatu materi lebih dapat dimengerti oleh pelajarnya. Oleh karena itu, dosen pengampu mencoba memberikan nuansa yang berbeda dalam suatu proses belajar yaitu kuliah secara online. Awalnya  kuliah Online kami menjadi lebih antusias dan tertarik mengikuti aktivitas tersebut karena tidak hanya terbatas dengan ruang kelas / bisa akses dimanapun dan kita banyak bisa melihat fitur-fitur yang menarik dalam kecanggihan teknologi. Melalui kuliah Online ini, dosen mencoba menciptakan suatu proses belajar yang tidak tegang dan menyenangkan agar membuat mahasiswa aktif. Dan hasilnya, penerapan metode belajar melalui kuliah Online berhasil menciptakan suatu repson yang positif.
            Apabila kita melihat buku Learning and Instruction di hal 53, kita dapat melihat salah satu strategi yaitu menggunakan relasi yang sudah menimbulkan reaksi positif. Hal ini dapat dilihat melalui metode belajar “PSIKOLOGI BELAJAR” yang kembali menggunakan kuliah online sebagai metode pembelajaran antar pendidik dan anak didik. Setelah kita lihat, ketika dosen pengampu mengadakan kuliah online, mahasiswa terlihat sangat antusias dan aktif dalam prosesnya. Adanya kuliah online diadakan untuk kondisi yang diperkirakan munculnya akan reaksi negative yaitu situasi belajar yang membosankan membuat mahasiswa menjadi tidak terlalu tertarik dengan pelajaran dan kaku dalam memahami sebuah materi.

Teori belajar gestalt
            Psikologi gestalt berfungsi sebagai penentang behaviorisme di pertengahan abad ke-20. Psikolog gestalt berfokus pada persepsi dalam belajar. Organisme merespons keseluruhan ketimbang stimuli spesifik, organisasi stimuli mempengaruhi persepsi dan individu membangun persepsi ketimbang hanya menerima secara pasif.  Adanya kuliah online tidak hanya melihat suatu stimulus yang dihadirkan dan responnya namun melihat keseluruhan proses belajar yaitu interaksi antar diri dan lingkungan. Adanya proses yang terjadi dalam mengadakan kuliah online juga dilihat secara keseluruhan terutama pemecahan masalahnya.
            Individu harus mampu mengorganisasikan semua persepsinya untuk dapat memecahkan masalahnya, misalnya ada masalah koneksi internet dengan menggunakan modem saat melakukan kuliah online. Adanya muncul masalah itu membuat individu belajar untuk menemukan solusi sehingga kuliah online dapat berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan koneksi lagi seperti menggunakan Wi-fi di kampus atau warnet. Masalah yang lain dalam diskusi online adalah listrik yang padam padahal baterai laptop tinggal sedikit dan solusinya adalah nge charge baterai laptop sampai full. Adapun pemecahan masalah yang dilakukan setiap individu itu berbeda-beda sehingga ada yang berhasil menemukan solusi dan ada yang tidak berhasil. Namun berulang kali diadakan kuliah online membuat para mahasiswa belajar untuk menemukan solusi atas masalah-masalah yang terjadi selama kuliah online berlangsung agar diharapkan kuliah online selanjutnya tidak menemukan masalah yang sama.

Testimoni:
Kuliah online membantu kita untuk jadi lebih dapat mempersiapkan dan mengatur diri kita, terutama di masa-masa krisis listrik seperti saat ini. Kuliah online membuat saya lebih mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga dengan mengcharge laptop dan menahan diri untuk tidak menggunakannya seharian agar bisa digunakan saat kuliah online. Kuliah online juga membuat kita lebih aktif walau tidak bertemu pandang dengan satu kelas. Dan tentu saja kuliah online ini menambah pengalaman "berkuliah" yang baru walau sudah dilaksanakan semenjak semester dua. Saya ingat, saat hendak kuliah online MK. Psi Belajar, teman-teman saya dari fakultas lain bertanya "kenapa harus kuliah online? emang gimana sih? efektif ga?" menunjukkan bahwa dari segi penyajian kuliahnya, Fakultas Psikologi sangat kreatif. Dan saya senang dapat terlibat di dalamnya.

Sunday, September 15, 2013

Tugas Kelompok Teori Belajar – Skinner

Anggota Kelompok :


1       Mengapa kelompok memilih teori Skinner ?

Ada beberapa alasan yang membuat kelompok memilih teori ini, yaitu :
a.       Teori ini bersifat aplikatif dan sangat sering digunakan dan ditemui di kehidupan sehari-hari.
b.      Teori ini mudah dipahami.
c.       Teori ini menjelaskan mengenai reinforcement serta punishment, dan pada kenyataannya kebanyakan orang menyukai reinforcement dan menghindari punisment.
d.      Di kehidupan sehari-hari, saat kita mengetahui adanya konsekuensi, maka kita akan termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
e.       Ketika kita dihargai, perilaku kita akan semakin diperkuat. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Skinner.
f.       Teori ini merupakan teori yang sangat sering dipelajari dari awal perkuliahan (semester 1 hingga semester akhir).

Nb : setelah mendiskusikan jawaban mengenai alasan, kelompok sepakat bahwa semua alasan yang diungkapkan merupakan hal yang disetujui oleh seluruh anggota kelompok.

2.       Apa yang menjadi poin utama teori Skinner ? Kaitkan pula dengan alasan kelompok memilih teori ini !

Ada 3 poin utama dari teori Skinner, yaitu :
a.       Adanya kesempatan dimana perilaku terjadi (timing)
b.      Perilaku (behavior)
c.       Konsekuensi dari perilaku (consequence)
                        Alasan kelompok memilih teori Skinner sejalan dengan poin utama dari teori tersebut. Kelompok berpendapat bahwa kecenderungan manusia berperilaku dikarenakan adanya konsekuensi atas perilakunya tersebut. Konsekuensi tersebut juga harus diberikan secara konsisten sehingga perilaku yang diinginkan akan menetap. Jika perilaku yang dilakukan dianggap baik, maka akan menghasilkan reinforcement positif sehingga perilaku tersebut dipertahankan. Begitu juga dengan perilaku yang dianggap tidak baik, maka akan menghasilkan punishment sehigga perilaku tersebut hilang.

3.      Kaitkan hubungan antara teori Skinner dengan 3 keyakinan umum filsafat konstruktivis-sosial !

            Di dalam teori Skinner, terdapat juga keyakinan umum filsafat konstruktivis-sosial. Dimana pengetahuan yag diartikan sebagai produk dari setting belajar, produk dari penelitian ataupun aktivitas tertentu terlihat dari perilaku yang dihasilkan. Dalam teori Skinner, perilaku merupakan produk dari proses belajar.
            Belajar itu sendiri merupakan proses untuk mendapatkan pengetahuan. Pada teori Skinner, proses pengkondisian merupakan proses belajar pada individu. Pengkondisian tidak terjadi begitu saja. Pengkondisian tersebut dilakukan secara berulang-ulang sehingga menghasilkan perilaku yang menetap (habit) yang dapat diartikan sebagai produk dari proses belajar.
            Lokus belajar tidak terbatas hanya pada pikiran individu, namun terjadi di komunitas partisipan dan didistribusikan diantara sesama partisipan. Begitu juga pada teori Skinner, dimana kita mendapatkan reward atau punishment melalui proses interaksi dengan orang lain. Dan ada distribusi dari individu luar (orang lain atau lingkungan) terhadap individu yang sedang melakukan proses belajar. 

Thursday, June 21, 2012

Evaluasi Kinerja M.K Paedagogi

Satu semester terlewati sudah, tidak bisa dipungkiri bahwa mata kuliah paedagogi ini memberikan dinamika tersendiri dalam pengalaman saya selama berkuliah. Dalam mengerjakan tugas ini sendiri semua pengalaman-pengalaman baru selama satu semester ini terlintas satu per satu. Mulai dari kita mengikuti kelas paedagogi ini dihari pertama dimana Bu Dina memainkan bola dari kertas untuk menanyakan motivasi bergabung dalam kelas paedagogi hingga pertemuan terakhir saat ujian online bersama dikelas dan beberapa sambil berdiskusi mengenai blognya dengan Bu Dina. Berikut saya tuangkan beberapa pengalaman yang sudah terjadi sepanjang satu semester ini.

 Kesan 
 Dalam mengikuti mata kuliah ini, salah satu pengalaman yang paling berkesan tentu saja pelaksanaan micro-teaching kelompok. Pengalaman yang sangat berkesan karena untuk pertama kalinya saya melakukan pengajaran di Taman Kanak-kanak. Pengalaman saat micro-teaching jelas sangat berbeda dengan saat melakukan presentasi di depan kelas seperti proses perkuliahan dimata kuliah manapun, karena menghadapi langsung anak-anak dengan perilaku yang sangat beraneka dan menjadikan keasyikan tersendiri. Untuk membuat mereka tetap berfokus pada kita dan ikut campur dalam pelaksanaan micro-teaching memerlukan usaha yang lebih dan dengan kegigihan tentunya. Proses selama perkuliahan sebelum akhirnya terjun ke sekolah juga menjadi pengalaman tersendiri. Perkuliahan di mata kuliah paedagogi ini menuntut semua yang berpartisipasi didalamnya untuk tetap tanggap pada kemajuan tekhnologi. Proses perkuliahan bukan lagi lagi dengan metode yang konservatif, tetapi dimodifikasi untuk turut sejalan dengan perkembangan jaman. 

 Pesan
 Pesan untuk seluruh peserta mata kuliah paedagogi semester ini adalah tetap semangat, perjuangan masih panjang, tetap simpan semua ilmu yang kita dapatkan selama satu semester ini. Ganbatte ne!  \m/ 
Untuk Bu Dina selaku pengampu mata kuliah ini, terima kasih saya ucapkan ibu sudah membimbing kami, juga memaafkan segala perilaku “unik” kami. Terima kasih juga kepada ibu untuk segala bentuk penugasan yang kami terima yang telah membangkitkan kami juga untuk terus mengembangkan diri. Saya juga meminta maaf untuk kesalahan yang saya lakukan sepanjang proses kuliah ini, saya pastikan hal itu menjadi sarana saya untuk berbenah diri lagi dan lagi 

 Evaluasi 
 Evaluasi pada proses perkuliahan selama satu semester ini adalah tentu saja peserta yang kurang aktif, yang harus terus diberi stimulus untuk mau aktif di kelas. Untuk materi sendiri sudah cukup dapat dimengerti, tetapi terkadang bahasa yang disajikan pada buku terlalu berbelit-belit sehingga butuh usaha ekstra untuk memaknainya. Untuk tiap kelompok juga sudah mengerjakanmicro-teaching sesuai dengan style kelompok.

Kritik dan Saran 
Kritik dalam pelaksanaan mata kuliah ini adalah pada system penginformasian berita. Beberapa kali pemberitaan sampai hanya kurang lebih setengah jam sebelum memulai kuliah, sehingga persiapan yang dilakukan kurang maksimal. Saran yang dapat saya sumbangkan hanyalah untuk perkuliahan paedagogi selanjutnya, mahasiswa diharapkan lebih aktif lagi, dan tetap tanggap khusunya pada tugas-tugas yang diberikan. Untuk penyebaran informasi terkait kepentingan perkuliahan juga agar lebih dibenahi lagi. Untuk pelaksanaan kuliah maupun ujian online juga agar lebih dapat menjangkau semua peserta, khususnya peserta yang memiliki masalah sendiri terhadap jaringan internet.

Friday, May 25, 2012

Review Presentasi Micro Teaching



Kelompok 1




Setelah kelompok mempresentasikan pelaksanaan micro teaching yang dilakukan di TK. Aisyah, ada beberapa hal yang menjadi feedback untuk kelompok. Beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Ada seorang anggota kelompok yang tidak dapat hadir karena terlambat.

2.      Ketika kelompok menampilkan video pelaksanaan micro teaching, presenter juga   memberikan penjelasan mengenai video tersebut. Tetapi karena audio video yang tidak jernih, membuat penjelasan dan audio yang berbarengan menjadi terdengar berisik.

3.      Ada beberapa hal yang ditujukan kepada kelompok mengenai micro teaching.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.
Ø   Pertanyaan : Berkaitan dengan fenomena guru dikelas yang hanya fokus pada murid-murid yang aktif sehingga murid lain menjadi malu dan cenderung pasif. Bagaimana kelompok menangani hal tersebut ketika menyampaikan materi dikelas ?

Jawaban      : Kelompok akan tetap merespon dengan memanggil anak yang ditunjuk oleh gurunya untuk maju kedepan (misal, mencertitakan video edukasi yang sudah ditonton). Setelah itu kelompok akan memanggil anak lain yang tidak ditunjuk oleh gurunya. Bahkan   jika anak tersebut tidak mau dan malu-malu, salah seorananggotkelompok akan mendekatinya secara          personal dan menanyakan apakah ia mau untuk maju kedepan. Dan hasilnya cukup memuaskan, anak tersebut mengangguk dan mau untuk maju kedepan.

Ø    Pertanyaan    : Maksud penggunaan laptop oleh kelompok ketikamicro teching apakah  hanya digunakan oleh kelompok selaku penyampai materi dikelas atau anak-anak juga ikut menggunakannya?

Jawaban         : Sebenarnya penggunaan laptop ketika micro teaching dimaksudkan digunakan oleh anggota kelompok selaku penyampai materi untuk memperlihatkan video edukasi yang berupa animasi. Karena seperti dijelaskan diawal, kelompok mengusung teori B.F. Skinner yang berorientasi pada teknologi. Dengan pengguaan teknologi ini diharapkan akan lebih menarik perhatian anak. Tetapi ketiak dilapangan, ada beberapa anak yang mencoba mengeksplor kemampuannya dengan membuka-buka salah satu laptop anggota kelompok dengan didampingi anggota kelompok itu sendiri.


Ø    Pertanyaan     : Kelompok  mengatakan bahwa didalam kelas ada 3 orang anak berkebutuhan khusus. Apakah hal tersebut tetap membuat kelas efektif?

Jawaban          : Berdasarkan pengalaman micro teaching, kelas cukup efektif. Karena semua anggota kelompok berusaha untuk berada sedekat mungkin dan berinteraksi secara personal dengan semua anak. Anggota kelompok tetap berinteraksi dengan 3 anak berkebutuhan khusus tersebut. Sehingga kami bisa mengetahui apakah anak tersebut memahami materi yang disampaian didepan kelas atau tidak.

Ø    Pertanyaan     : Dalam video micro teaching yang kelompok 1 tadi, saya melihat ada seorang anak yang bermain mobil-mobilan dikelas dan tidak memperhatikan apa yang anggota kelompok sampaikan didepan kelas. Bagaimana kelompok menanggapi hal tersebut?  

Jawaban            :   Kebetulan anak itu adalah satu dari tiga anak yang berkebutuhan khusus yang sudah kami jelaskan, banyak kegiatan yang dia lakukan dalam pelaksanaan micro-teaching dan kami secara bergantian mengajak dia untuk kembali terlibat dalam pelaksanaan micro-teaching.

Thursday, May 17, 2012

Pelaksanaan Micro-teaching (revisi)


Kelompok 1
Topik   : Mengenal Lingkungan

I.    Pendahuluan
Salah satu topik terhangat yang menjadi perbincangan serius dimasyarakat adalah memanasnya suhu bumi yang memberikan dampak besar bagi aktivitas manusia sehari-hari. Kenaikan suhu atau panas yang kita rasakan sekarang terjadi sangat cepat. Saat malam haripun kita merasakan panas yang tidak biasa. Hal ini terjadi karena global warming  atau pemanasan global yang diakibatkan efek rumah kaca, asap kendaran bermotor, asap pabrik dan industri serta penebangan liar yang semakin marak terjadi. Tidak hanya itu, pengelolaan pembuangan akhir (sampah) juga turut memberikan sumbangan yang besar bagi global warming. Hal-hal tersebut diatas sebenarnya belum terlambat untuk ditanggulangi. Bahkan kita juga masih bisa mencegah pemanasan global yang smakin hari semakin meningkat.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa menanggulangi bahkan mencegah pemanasan global agar tidak meningkat atau meminimalkan efek buruknya bagi kehidupan makhluk hidup dimuka bumi? Kita bisa memulainya dengan melakukan hal-hal kecil secara individual terlebih dahulu. Seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon dihalaman rumah, mengurangi pemakaian listrik yang tidak berguna, mengurangi penggunaan bahan yang tidak bisa didaur ulang dan menggunakan lagi bahan-bahan yang masih bisa dipakai, tentu hal ini kita kenal dengan istilah daur ulang.

Mengingat wacana diatas, maka tema yang akan kami ambil dalam micro teaching adalah “ Sayang Bumi “. Tema ini mengusung gerakkan menanam pohon dan membuang sampah pada tempatnya. Semua kegiatan yang dirancang adalah bertujuan untuk memperkenalkan kepada siswa tentang pentingnya menjaga bumi dan hal ini sejalan dengan isu global warming yang saat ini sedang diperbincangkan.

            Cara mengajar yang kami terapkan untuk mengaplikasikan tema “ Sayang Bumi” adalah dengan mengguakan strategi mengajar kelompok dan tim, ceramah serta strategi mencari dan menemukan. Kelompok juga mengaplikasikan teori B.F. Skinner untuk menyampaikan materi, yaitu dengan menggunakan teknologi. Kami menggunakan kaptop untuk menampilkan beberapa video yang berhubungandengan global warming, bagaimana hidup sehat dengan menjaga keseimbangan alam. Dalam video juga ditampilkan akibat buruk dari penebangan liar, buang sampah sembarangan dan beberapa pesan lain yang tentunya menarik dan tetap sejalan dengan tema yang kami usung.

            Selain itu kelompok juga mengajarkan anak-anak keterampilan dengan menggunakan barang-barang bekas (mendaur ulang). Sehingga barang-barang bekas tersebut tidak menjadi sampah yang bisa berakibat negatif bagi bumi.
I.1. Tujuan Micro Teaching
ü  Memperkenalkan anak pada keindahan alam
ü  Membimbing anak cara menjaga lingkungan
ü  Memberikan anak pengetahuan tentang dampak  tidak menjaga lingkungan
ü  Mengajarkan anak keterampilan dengan memanfaatkan barang-barang bekas
ü  Mengasah kreatifitas
I.2. Manfaat Micro Teaching
            Melalui rangkaian micro teaching ini anak lebih memperhatikan lingkungan.Selain itu pembagian kelompok bermanfaat agar anak mampu bekerja sama dengan orang lain. Video edukasi yang diberikan juga membuat anak mengenal teknologi, seperti laptop.

II.     Landasan Teori

Guru bertanggung jawab untuk mempromosikan pentingnya belajar bagi siswa. Tentu guru juga harus menjadi pembelajar sejati agar dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus mengalami percepatan, termasuk kemajuan dibidang paedagogi sendiri, meskipun tidak ada formula yang akan menjamin semangat dan efektifitas bagi setiap siswa dalam setiap konteks, ada bukti-bukti luas yang terdokumentasi dengan baik tentang jenis pendekatan pengajaran yang secara konsisten memiliki dampak positif terhadap aktivitas pembelajaran siswa.Kegiatan belajar mengajar siswa dapat dilakukan dengan pendekatan teknologis melalui aplikasi teknologi pengajaran. Salah satu pendukung utama pendekatan pembelajaran berbasis teknologi adalah B.F. Skinner. Skinner berargumen bahwa guru-guru dapat dilatih untuk menerapkan teknologi pendidikan atau mentranformasikan material pembelajaran dengan pendekatan teknologis dalam logika masukan-proses-luaran atau stimulus-respon yang mekanistik.

Berkaitan dengan prinsip paedagogi yang telah disinggung diatas, kelompok akan menggunakan  5 strategi mengajar yang efektif untuk merealisasikan pengajaran yang bertema “ Sayang Bumi” yang telah direncanakan. 5 strategi tersebut yang pertama adalah pelatihan, yaitu mengembangkan keterampilan dasar dan lanjutan dengan tujuan yang jelas. Yang kedua adalah ceramah dan menjelaskan, yaitu menyajikan informasi dengan cara yang dapat dipahami, mudah diproses dan diingat

            Selain itu, seorang guru juga harus memiliki persyaratan baik itu yang cenderung statis maupun dinamis. Namun, melihat perkembangan yang begitu pesat, baik dalam hal teknologi maupun isu-isu lain guru menjadi lebih dituntut untuk memiliki persyaratan “dinamis”. Mengacu pada hal yang saat ini sedang berkembang yaitu isu-isu mengenai pemanasan global (global warming), maka tema “sayang bumi” menjadi tema yang mungkin sangat menarik dan baik diterapkan dalam proses pengajaran.

III.    Alat yang Digunakan
          Alat yang digunakan dalam micro teaching adalah,
·         Kertas Origami
·         Laptop
·         Reward, berupa susu.
·         Gelas air mineral bekas
·         Spidol warna,
·         Pita
·         Perekat

IV.    Lokasi
TK Aisyah
Jl.Abdul Hakim

V.     Perencanaan Kegiatan
Tanggal
Kegiatan
9-20 April 2012
Menyusun rencsna kegiatan
20 April 2012
Tinjau lokasi
21 April 2012
Terjun ke lapangan


VI.     Perincian Dana
·         Reward                      : Rp.60.000,-
·         Origami                      : Rp.  5.000,-
·         Peralatan lainnya        : Rp.36.000,-

VII.    Perincian Kegiatan

VIII. Instruktur Kegiatan

 Instruktur Bentuk Kegiatan Yohanti Viomanna Menyanyi Nadya Putri Delwis Menari Fauziah Nami Video edukasi mengenai cara menjaga lingkungan Elienz Vidella Keterampilan Daur Ulang Rizqa Retizha Mengajar keterampilan origami Fitri Dian Adlina Video edukasi mengenai dampak tidak menjaga lingkungan

Instruktur
Bentuk Kegiatan
Yohanti Viomanna
Menyanyi
Nadya Putri Delwis
Menari
Fauziah Nami
Video edukasi mengenai cara menjaga lingkungan
Elienz Vidella
Keterampilan Daur Ulang
Rizqa Retizha
Mengajar keterampilan origami
Fitri Dian Adlina
Video edukasi mengenai dampak tidak menjaga lingkungan


IX. Evaluasi
            Pada saat kedatangan kami untuk melaksanakan micro teaching, ada anak yang berulang tahun sehingga kelas digabung dengan kelas lainnya dan jumlah anak yang banyak membuat proses belajar kurang efektif. Pada saat observasi sebelumnya, guru mengatakan anak-anak sudah bisa membaca, namun karena kelas dicampur, sebagian besar ternyata anak-anak belum bisa membaca.
            Di kelas juga terdapat dua anak hyperaktif dan satu anak autisme. Sehingga membutuhkan kesabaran lebih dalam menjelaskan dikelas dan mengkontrol keadaan kelas. Dalam mengatasi anak-anak yang hyperaktif dikelas, kami mencoba untuk menarik perhatian mereka untuk selalu berfokus kepada kami, dan ternyata pemutaran video edukasi dan praktek ketrampilan dapat membuat mereka berpartisipasi dengan baik dikelas. Kelas yang tidak memiliki infokus membuat kami mengimprovisasi membagi kelas menjadi tiga kelompok dan mengajak mereka menonton bersama melalui laptop. Ternyata ini efektif untuk memfokuskan perhatian anak-anak.
            Untuk mengatasi anak yang autisme, kami mencoba untuk selalu mengajak ia berpartisipasi, baik dalam menentukan warna kertas, spidol, dll. Ini bertujuan untuk membuat ia lebih aktif. Dan cara ini juga berhasil.        
            Ketika kami meminta respon anak-anak, guru cenderung memilih anak-anak yang menonjol. Ini otomatis menurunkan kepercayaan diri anak-anak lainnya, dan membuat mereka malu untuk aktif dikelas. Ketika kami mengajarkan ketrampilan origami dan membuat gelas hias, anak-anak kami tanya satu persatu untuk memancing mereka aktif. Kami juga memberikan pujian ketika anak-anak dapat mengerjakan ketrampilannya. Hal ini kami lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka.
            Pada saat pemutaran video edukasi secara berkelompok anak juga terlihat lebih aktif bertanya. Dan setelah pemutaran, anak-anak dapat menceritakan kembali dengan baik makna video edukasi yang mereka lihat. Setelah micro teaching kami selesai, anak-anak terlihat lebih bersemangat dan aktif ketika kami meminta mereka menjelaskan bagaimana cara menyayangi bumi. Disini anak sudah tidak tampak malu untuk berpendapat.

X. Pesan dan Kesan Selama Micro Teaching

Ø  Fauziah Nami Nasution (10-016)     
Tantangan yang saya rasakan selama micro teaching di TK Aisyah ini adalah minimnya pengalaman saya untuk menguasai kelas. Terutama anak Tk dengan berbagai macama karakter. Mereka semua seharusnya mendapatkan perhatian yang sama. Ketika menghadapi anak yang kurang aktif dan pemalu saya berusaha melakukan pendekatan sebaik mungkin agar ia nyaman untuk berinteraksi dengan saya. Saya berusaha seaktif mungkin dan menghampiri bangkunya untuk menanyakan namanya, apakah dia bisa melakukan dan mengikuti apa yang diberikan dikelas. Beda ketika saya berhadapan dengan anak yang aktif bahkan cenderung hiperaktif. Berbagai macam cara interaksi dan komunikasi saya gunakan untuk bisa membuat kelas kondusif.


Ø  Elienz Vidella Tarigan (10-028)
Menurut saya kegiatan micro teaching ini sangat menantang dan cukup membantu kelompok untuk belajar bagaimana berhadapan langsung dengan anak-anak,lalu bagaimana mengajar mereka,kemudian bagaimana menghadapi beberapa kendala dalam mengajar mereka.Karena kita belajar tidak cukup hanya dari teori saja,harus ada praktek langsungnya juga agar proses belajar mengajar itu dapat berlangsung dengan baik.Selain itu kami juga bisa belajar mengenal bagaimana lingkungan kanak-kanak,memahami gerak-gerik mereka,bagaimana ekspresi dan cara mereka menanggapi kegiatan yang kami sampaikan,pokoknya kegiatan ini sangat menantang dan menarik buat saya.

Ø  Fitri Dian Adlina (10-091)
Kegiatan micro teaching ini pengalaman pertama saya untuk mengajar dan memberi materi kepada anak TK. Awalnya sempet grogi karena murid di kelas tersebut sangat banyak, lebih banyak dari biasanya yang berjumlah 18 murid. Apalagi saya mendapat giliran mengajar yang terakhir di dalam kelas. Sehingga agak kesulitan untuk membuat mereka fokus lagi seperti di awal-awal. Tetapi setelah saya mencoba berkenalan dengan mereka , rasa grogi saya sedikit memudar karena mulai memahami karakter mereka. Sehingga saya tahu apa yang harus dilakukan ketika mengajar dan berusaha membangun suasana. Saya senang karena mereka banyak yang aktif. Ketika saya memutar video edukasi tentang lingkungan dan menstimulasi mereka, ternyata pemahaman mereka tentang lingkungan cukup baik. Itu sangat membantu saya dalam menjelaskan materi. Meskipun ada beberapa yang pemalu, tetapi ketika saya menawarkan mereka untuk ke depan dan menceritakan kembali tentang video tersebut, mereka mau. Memang butuh kesabaran dalam menghadapi berbagai karakter mereka yang berbeda. Tetapi sebagai pengajar yang baik seharusnya tetap memberikan mereka kesempatan dan menstimulasi mereka untuk terlibat di kelas. Dan tidak membeda-bedakan merekan. Karena ketika kita mulai mengenal dan memahami mereka dengan baik, maka akan mudah untuk mengambil hati mereka.

Ø  Nadya Putri Delwis (10-024)
 Menyenangkan bisa berinteraksi dengan anak-anak yang masih lucu-lucunya. Mereka ada yang berani untuk tampil di depan ada juga yang malu-malu untuk menampilkan bakatnya. Awalnya saya grogi untuk mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak tersebut, tapi entah kenapa, setelah mencoba dan mereka tanggapannya positif saya menjadi bersemangat. Daya tangkap anak-anak itu juga sangat cepat dan

 mereka juga mau untuk terbuka mengenai perasaannya.  Jadi, komunikasi dengan anak-anak itu juga lancar dan mengasyikan.

Ø  Rizqa Rethiza (10-102)
Menurut saya sangat menyenangkan dan penuh pelajaran dalam pelaksanaan maupun proses pengerjaan micro teaching ini. Dimana kita dituntut untuk siap dalam menghadapi setiap prilaku anak-anak yang tentu saja tidak dapat diprediksi, begitu juga dengan faktor-faktor lain seperti keadaan murid dan lingkungan kelas. Pada saat kami datang mengunjungi TK Aisyiyah ini untuk praktek micro teaching, ternyata sedang ada anak yang ulang tahun dan hendak mengadakan acara, sehingga kelas tercampur dan melebihi kapasitas biasanya yang hanya 18anak menjadi 25 anak. Karena faktor inilah kelas menjadi semangkin ribut dan susah ditenangkan. Sifat anak juga beragam, ada yang pasif, aktif, hiperaktif, bahkan ada anak autisme dikelas ini, namun hal ini tidak mengurangi semangat kami untuk menyampaikan materi yang ingin kami sampaikan. Kami berusaha keras untuk membuat anak-anak tetap fokus kepada kami dan dapat melakukan apa yang kami ajarkan. Saya dalam micro teaching ini mengajarkan mereka untuk berkreasi dengan origami, dimana dapat mengasah kreativitas mereka. Saya membuat mereka dalam  beberapa kelompok dimana ada 2 anak dalam satu kelompok, namun saya tetap memberikan kertas origami kepada mereka secara perorangan. Saya menjelaskan satu-persatu dari kelompok ke kelompok agar mereka lebih mengerti mengenai langkah-langkah yang juga saya jelaskan sambil mempraktekkan didepan. Mereka dengan baik dapat mengerjakan petunjuk yang saya berikan dan terfokus kepada saya. Berbagai improvisasi saya lakukan untuk membuat mereka lebih mengerti kepada saya. Dan akhirnya saya menyadari bahwa menjadi guru tidak semudah yang saya pikirkan dahulu. Tapi walaupun sulit saya sangat menyukai pengalaman berharga ini J

Ø  Yohanti Viomanna (10-109)
Saya sangat senang dengan pengalaman baru saya ini. Ini akan menjadi pengalaman yang terlupakan untuk saya. Disini saya mengajarkan mereka kesenian menyanyi mengenai alam awalnya guru mereka memberi informasi bahwa mereka sudah bisa membaca, namun ketika dikelas saat kami praktek, karena ada percampuran murid, guru memberitahukan kepada saya bahwa mereka belum bisa membaca, sehingga agak sulit untuk mengajarkan mereka menyanyi, apalagi ternyata mereka belum tahu mengenai lagu yang saya bawakan. Dan ketika saya menulis lagu tersebut dipapan tulis, ternyata mereka belum bisa membaca. Akhirnya saya berimprovisasi untuk mengajak mereka menyebutkan kalimat perkalimat lagu ini, ini membantu mereka untuk mengingat lirik yang saya berikan, setelahnya baru saya mengajak mereka bernyanyi bersama saya. Dan akhirnya saya berhasil membuat bereka bernyanyi bersama saya. Saya merasa senang karena akhirnya berhasil membuat mereka bernyanyi bersama saya yang pada awalnya mereka hanya diam karena tidak mengetahui sama sekali lagu yang saya bawakan. Dengan segala kesulitan dan kebingungan yang ada, saya tetap menyukai micro teaching ini karena sangat menyenangkan J





Monday, April 30, 2012

Pelaksanaan Micro-Teaching


Kelompok 1

Tema   : Sayang Bumi
Topik   : Mengenal Lingkungan

A.    Pendahuluan
Salah satu topik terhangat yang menjadi perbincangan serius dimasyarakat adalah memanasnya suhu bumi yang memberikan dampak besar bagi aktivitas manusia sehari-hari. Kenaikan suhu atau panas yang kita rasakan sekarang terjadi sangat cepat. Saat malam haripun kita merasakan panas yang tidak biasa. Hal ini terjadi karena global warming  atau pemanasan global yang diakibatkan efek rumah kaca, asap kendaran bermotor, asap pabrik dan industri serta penebangan liar yang semakin marak terjadi. Tidak hanya itu, pengelolaan pembuangan akhir (sampah) juga turut memberikan sumbangan yang besar bagi global warming. Hal-hal tersebut diatas sebenarnya belum terlambat untuk ditanggulangi. Bahkan kita juga masih bisa mencegah pemanasan global yang smakin hari semakin meningkat.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa menanggulangi bahkan mencegah pemanasan global agar tidak meningkat atau meminimalkan efek buruknya bagi kehidupan makhluk hidup dimuka bumi? Kita bisa memulainya dengan melakukan hal-hal kecil secara individual terlebih dahulu. Seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon dihalaman rumah, mengurangi pemakaian listrik yang tidak berguna, mengurangi penggunaan bahan yang tidak bisa didaur ulang dan menggunakan lagi bahan-bahan yang masih bisa dipakai, tentu hal ini kita kenal dengan istilah daur ulang.

Mengingat wacana diatas, maka tema yang akan kami ambil dalam micro teaching adalah “ Sayang Bumi “. Tema ini mengusung gerakkan menanam pohon dan membuang sampah pada tempatnya. Semua kegiatan yang dirancang adalah bertujuan untuk memperkenalkan kepada siswa tentang pentingnya menjaga bumi dan hal ini sejalan dengan isu global warming yang saat ini sedang diperbincangkan.

            Cara mengajar yang kami terapkan untuk mengaplikasikan tema “ Sayang Bumi” adalah dengan mengguakan strategi mengajar kelompok dan tim, ceramah serta strategi mencari dan menemukan. Kelompok juga mengaplikasikan teori B.F. Skinner untuk menyampaikan materi, yaitu dengan menggunakan teknologi. Kami menggunakan kaptop untuk menampilkan beberapa video yang berhubungandengan global warming, bagaimana hidup sehat dengan menjaga keseimbangan alam. Dalam video juga ditampilkan akibat buruk dari penebangan liar, buang sampah sembarangan dan beberapa pesan lain yang tentunya menarik dan tetap sejalan dengan tema yang kami usung.

            Selain itu kelompok juga mengajarkan anak-anak keterampilan dengan menggunakan barang-barang bekas (mendaur ulang). Sehingga barang-barang bekas tersebut tidak menjadi sampah yang bisa berakibat negatif bagi bumi.

B.     Landasan Teori

Guru bertanggung jawab untuk mempromosikan pentingnya belajar bagi siswa. Tentu guru juga harus menjadi pembelajar sejati agar dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus mengalami percepatan, termasuk kemajuan dibidang paedagogi sendiri, meskipun tidak ada formula yang akan menjamin semangat dan efektifitas bagi setiap siswa dalam setiap konteks, ada bukti-bukti luas yang terdokumentasi dengan baik tentang jenis pendekatan pengajaran yang secara konsisten memiliki dampak positif terhadap aktivitas pembelajaran siswa.Kegiatan belajar mengajar siswa dapat dilakukan dengan pendekatan teknologis melalui aplikasi teknologi pengajaran. Salah satu pendukung utama pendekatan pembelajaran berbasis teknologi adalah B.F. Skinner. Skinner berargumen bahwa guru-guru dapat dilatih untuk menerapkan teknologi pendidikan atau mentranformasikan material pembelajaran dengan pendekatan teknologis dalam logika masukan-proses-luaran atau stimulus-respon yang mekanistik.

Berkaitan dengan prinsip paedagogi yang telah disinggung diatas, kelompok akan menggunakan  5 strategi mengajar yang efektif untuk merealisasikan pengajaran yang bertema “ Sayang Bumi” yang telah direncanakan. 5 strategi tersebut yang pertama adalah pelatihan, yaitu mengembangkan keterampilan dasar dan lanjutan dengan tujuan yang jelas. Yang kedua adalah ceramah dan menjelaskan, yaitu menyajikan informasi dengan cara yang dapat dipahami, mudah diproses dan diingat

            Selain itu, seorang guru juga harus memiliki persyaratan baik itu yang cenderung statis maupun dinamis. Namun, melihat perkembangan yang begitu pesat, baik dalam hal teknologi maupun isu-isu lain guru menjadi lebih dituntut untuk memiliki persyaratan “dinamis”. Mengacu pada hal yang saat ini sedang berkembang yaitu isu-isu mengenai pemanasan global (global warming), maka tema “sayang bumi” menjadi tema yang mungkin sangat menarik dan baik diterapkan dalam proses pengajaran.

C.    Alat yang Digunakan
          Alat yang digunakan dalam micro teaching adalah,
·         Kertas Origami
·         Laptop
·         Reward, berupa susu.
·         Gelas air mineral bekas
·         Spidol warna,
·         Pita
·         Perekat
D.    Lokasi
TK Aisyah
Jl.Abdul Hakim

E.     Perencanaan Kegiatan
Tanggal
Kegiatan
9 – 20 April 2012
Menyusun perencanaan kegiatan
20 April 2012
Tinjau lokasi
21 April 2012
Terjun kelapangan




F.     Perincian Dana
·         Reward                      : Rp.60.000,-
·         Origami                      : Rp.  5.000,-
·         Peralatan lainnya        : Rp.36.000,-

G.    Perincian Kegiatan

Instruktur Kegiatan
Bentuk Kegiatan
Fauziah Nami
Mengenal tumbuhan
Nadya Putri
Menari
Elienz Vidella
Keterampilan daur ulang
Fitri Dina Adlina
Video Edukasi mengenai lingkungan
Rizqa Rethiza
Keterampilan origami
Yohanti Viomanna
Menyanyi


Pesan dan Kesan Selama Micro Teaching

Ø  Fauziah Nami Nasution (10-016)      
Tantangan yang saya rasakan selama micro teaching di TK Aisyah ini adalah minimnya pengalaman saya untuk menguasai kelas. Terutama anak Tk dengan berbagai macama karakter. Mereka semua seharusnya mendapatkan perhatian yang sama. Ketika menghadapi anak yang kurang aktif dan pemalu saya berusaha melakukan pendekatan sebaik mungkin agar ia nyaman untuk berinteraksi dengan saya. Saya berusaha seaktif mungkin dan menghampiri bangkunya untuk menanyakan namanya, apakah dia bisa melakukan dan mengikuti apa yang diberikan dikelas. Beda ketika saya berhadapan dengan anak yang aktif bahkan cenderung hiperaktif. Berbagai macam cara interaksi dan komunikasi saya gunakan untuk bisa membuat kelas kondusif.

Ø  Elienz Vidella Tarigan (10-028)
Menurut saya kegiatan micro teaching ini sangat menantang dan cukup membantu kelompok untuk belajar bagaimana berhadapan langsung dengan anak-anak,lalu bagaimana mengajar mereka,kemudian bagaimana menghadapi beberapa kendala dalam mengajar mereka.Karena kita belajar tidak cukup hanya dari teori saja,harus ada praktek langsungnya juga agar proses belajar mengajar itu dapat berlangsung dengan baik.Selain itu kami juga bisa belajar mengenal bagaimana lingkungan kanak-kanak,memahami gerak-gerik mereka,bagaimana ekspresi dan cara mereka menanggapi kegiatan yang kami sampaikan,pokoknya kegiatan ini sangat menantang dan menarik buat saya.

Ø  Fitri Dian Adlina (10-091)
Kegiatan micro teaching ini pengalaman pertama saya untuk mengajar dan memberi materi kepada anak TK. Awalnya sempet grogi karena murid di kelas tersebut sangat banyak, lebih banyak dari biasanya yang berjumlah 18 murid. Apalagi saya mendapat giliran mengajar yang terakhir di dalam kelas. Sehingga agak kesulitan untuk membuat mereka fokus lagi seperti di awal-awal. Tetapi setelah saya mencoba berkenalan dengan mereka , rasa grogi saya sedikit memudar karena mulai memahami karakter mereka. Sehingga saya tahu apa yang harus dilakukan ketika mengajar dan berusaha membangun suasana. Saya senang karena mereka banyak yang aktif. Ketika saya memutar video edukasi tentang lingkungan dan menstimulasi mereka, ternyata pemahaman mereka tentang lingkungan cukup baik. Itu sangat membantu saya dalam menjelaskan materi. Meskipun ada beberapa yang pemalu, tetapi ketika saya menawarkan mereka untuk ke depan dan menceritakan kembali tentang video tersebut, mereka mau. Memang butuh kesabaran dalam menghadapi berbagai karakter mereka yang berbeda. Tetapi sebagai pengajar yang baik seharusnya tetap memberikan mereka kesempatan dan menstimulasi mereka untuk terlibat di kelas. Dan tidak membeda-bedakan merekan. Karena ketika kita mulai mengenal dan memahami mereka dengan baik, maka akan mudah untuk mengambil hati mereka.
 
Ø  Nadya Putri Delwis (10-024)
 Menyenangkan bisa berinteraksi dengan anak-anak yang masih lucu-lucunya. Mereka ada yang berani untuk tampil di depan ada juga yang malu-malu untuk menampilkan bakatnya. Awalnya saya grogi untuk mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak tersebut, tapi entah kenapa, setelah mencoba dan mereka tanggapannya positif saya menjadi bersemangat. Daya tangkap anak-anak itu juga sangat cepat dan mereka juga mau untuk terbuka mengenai perasaannya.  Jadi, komunikasi dengan anak-anak itu juga lancar dan mengasyikan.

Ø  Rizqa Rethiza (10-102)
Menurut saya sangat menyenangkan dan penuh pelajaran dalam pelaksanaan maupun proses pengerjaan micro teaching ini. Dimana kita dituntut untuk siap dalam menghadapi setiap prilaku anak-anak yang tentu saja tidak dapat diprediksi, begitu juga dengan faktor-faktor lain seperti keadaan murid dan lingkungan kelas. Pada saat kami datang mengunjungi TK Aisyiyah ini untuk praktek micro teaching, ternyata sedang ada anak yang ulang tahun dan hendak mengadakan acara, sehingga kelas tercampur dan melebihi kapasitas biasanya yang hanya 18anak menjadi 25 anak. Karena faktor inilah kelas menjadi semangkin ribut dan susah ditenangkan. Sifat anak juga beragam, ada yang pasif, aktif, hiperaktif, bahkan ada anak autisme dikelas ini, namun hal ini tidak mengurangi semangat kami untuk menyampaikan materi yang ingin kami sampaikan. Kami berusaha keras untuk membuat anak-anak tetap fokus kepada kami dan dapat melakukan apa yang kami ajarkan. Saya dalam micro teaching ini mengajarkan mereka untuk berkreasi dengan origami, dimana dapat mengasah kreativitas mereka. Saya membuat mereka dalam  beberapa kelompok dimana ada 2 anak dalam satu kelompok, namun saya tetap memberikan kertas origami kepada mereka secara perorangan. Saya menjelaskan satu-persatu dari kelompok ke kelompok agar mereka lebih mengerti mengenai langkah-langkah yang juga saya jelaskan sambil mempraktekkan didepan. Mereka dengan baik dapat mengerjakan petunjuk yang saya berikan dan terfokus kepada saya. Berbagai improvisasi saya lakukan untuk membuat mereka lebih mengerti kepada saya. Dan akhirnya saya menyadari bahwa menjadi guru tidak semudah yang saya pikirkan dahulu. Tapi walaupun sulit saya sangat menyukai pengalaman berharga ini J

Ø  Yohanti Viomanna (10-109)
Saya sangat senang dengan pengalaman baru saya ini. Ini akan menjadi pengalaman yang terlupakan untuk saya. Disini saya mengajarkan mereka kesenian menyanyi mengenai alam awalnya guru mereka memberi informasi bahwa mereka sudah bisa membaca, namun ketika dikelas saat kami praktek, karena ada percampuran murid, guru memberitahukan kepada saya bahwa mereka belum bisa membaca, sehingga agak sulit untuk mengajarkan mereka menyanyi, apalagi ternyata mereka belum tahu mengenai lagu yang saya bawakan. Dan ketika saya menulis lagu tersebut dipapan tulis, ternyata mereka belum bisa membaca. Akhirnya saya berimprovisasi untuk mengajak mereka menyebutkan kalimat perkalimat lagu ini, ini membantu mereka untuk mengingat lirik yang saya berikan, setelahnya baru saya mengajak mereka bernyanyi bersama saya. Dan akhirnya saya berhasil membuat bereka bernyanyi bersama saya. Saya merasa senang karena akhirnya berhasil membuat mereka bernyanyi bersama saya yang pada awalnya mereka hanya diam karena tidak mengetahui sama sekali lagu yang saya bawakan. Dengan segala kesulitan dan kebingungan yang ada, saya tetap menyukai micro teaching ini karena sangat menyenangkan J


Powered by Blogger.