Orang bijaksana akan menjadi majikan dari pikirannya, orang bodoh akan menjadi budaknya - Piblilius Syrus

My Blog List

Sunday, March 25, 2012

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Nama Kelompok:
Vivian Felicia 10-043
Putri Mayritza 10-083
Yohanti  Viomanna10-109


Bagi para guru, kekuatan paedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari konsep teoritis. Teori memang merupakan sesuatu yang paling praktis. Namun, bagaimana cara guru-guru menggunakan dan memanfaatkan teori tersebut adalah paedagogi praktis. 

Beberapa guru juga tidak mempunyai paedagogi teoritis yang kuat, padahal seperti diketahui paedagoi praktis yang baik adalah guru yang mempunyai pedagogi teoritis yang kuat. Misalnya saja, dengan maraknya gaya pembelajaran student-centered, guru seakan tidak lagi bekerja atau mengajar sebagaimana mestinya. Peserta didik seperti "melayani" dirinya sendiri. Beberapa guru bahkan tidak mempersiapkan materi pelajaran untuk peserta didiknya, peserta didik mempersiapkan materi sendiri, membuat soal dan lain - lain.

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Paedagogi Praktis dan Guru Saat Ini

Nama Kelompok:
Vivian Felicia 10-043Putri Mayritza 10-083
Yohanti  Viomanna10-109


Bagi para guru, kekuatan paedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari konsep teoritis. Teori memang merupakan sesuatu yang paling praktis. Namun, bagaimana cara guru-guru menggunakan dan memanfaatkan teori tersebut adalah paedagogi praktis. 

Beberapa guru juga tidak mempunyai paedagogi teoritis yang kuat, padahal seperti diketahui paedagoi praktis yang baik adalah guru yang mempunyai pedagogi teoritis yang kuat. Misalnya saja, dengan maraknya gaya pembelajaran student-centered, guru seakan tidak lagi bekerja atau mengajar sebagaimana mestinya. Peserta didik seperti "melayani" dirinya sendiri. Beberapa guru bahkan tidak mempersiapkan materi pelajaran untuk peserta didiknya, peserta didik mempersiapkan materi sendiri, membuat soal dan lain - lain.

paedagogi teoritis dan prinsip-prinsip paedagogi

Paedagogi sebagai proses penyampaian pembelajaran kepada anak-anak pda dasarnya memiliki sifat-sifat paedagogi yang nantinya disebut paedagogis. Beberapa ahli menyebutkan istilah paedagogis sebagai berikut.

-Danilov (1978) : paedagogis adalah proses interaksi terus-menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan perkembangan siswa. Asimilasi pengetahuan oleh siswa berkaitan dengan antusiasme mereka untuk mengetahui deverifikasi daalam proses kerja yang intensif dan aktif.

- Alberto Garcia (2005) : paedagogis adalah tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah dimana interaksi itu dilakukan berdasarkan teori paedagogis tertentu, berorientasi pada tujuan institusional, dan dikembangkan dalam interaksi yang dekat dengan keluarga dan masyarakat untuk mencapai pembentukan siswa secara sehat.

Jika menilik beberapa definisi tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada intinya paedagogi merupakan proses  untuk mengembangkan kemampuan siswa yang pada proses tersebut institusi tempatnya belajar meliputi guru, bahkan keluarga dirumah memilliki peran dan harus saling berkaitan dan bekerja sama dalam mencapai pengembangan anak.

            Dalam proses pelaksanaannya, paedagogi sendiri memiliki prinsip-prinsip yang menjadi tolak ukur dan sandaran pelaksana paedagogi. Addine (2005) menyatakan bahwa prinsip paedagogis itu adalah kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis yang menyoroti bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju di bidang sains kontemporer dan korespondensi total dengan ideology kita. Karenanya apapun yang didapatkan anak pada proses pembelajarannya diharapkan dapat berguna buat bekal kehidupannya di masa depan.
           
            Beberapa prinsip mengenai paedagogi adalah mengombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan , serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya harus adanya kesatuan pengajaran, pendidikan dan proses perkembangan pada kegiatan pembangunan. Dan prinsip bahwa masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.

Sunday, March 18, 2012

Paedagogi dan Paradigma Belajar

Paedagogi atau pendidkan untuk anak bukanlah suatu hal yang sederhana. Anak-anak masih belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk langsung mengetahui dan mencerna informasi-informasi yang didapatkannya dari lingkungan. Karenanya pengajar baik guru di sekolah maupun orang-orang di sekitarnya harus memiliki kemampuan untuk memfasilitasi anak dan pengetahuan baru yang didapatkannya.
Pendidikan untuk anak tak bisa dilepas dari peran sekolah atau lembaga pnyelenggara pendidikan untuk anak lainnya. Para pengajar yang bertanggung jawab untuk mentransfer ilmu pada anak-anak yang masih harus mendapat bimbingan penuh dalam proses menyerap ilmu ini harus memiliki kualifikasi yang tepat dalam srategi pembelajarannya.
Strategi pembelajaran itu akan berbeda-beda pada tiap guru, dikarenakan paradigma belajar yang berbeda pula. Paradigma sendiri adalah cara dan pola yang mendasari pemahaman, penilaian, peraturan dan pedoman dalam mengerjakan sesuatu. Sesuatu yang kita maksud kali ini adalah belajar. Jadi paradigma belajar yang berbeda pada tiap guru akan menghasilkan strategi belajar yang berbeda pula berdasarkan kondisi kelas dan situasi serta fasilitas yang ada.
Strategi pengajaran dalam suatu kelas paedagogi yang beragam pada dasarnya mengacu pada lima strategi berupa pelatihan, ceramah, mengembangkan ketrampilan berpikir melalui pemesahan kasus, membuat kelompok dan tim, serta membawa anak terjun langsung kelapangan dan merefleksikan pembelajaran yang telah didapat.
Paradigma yang memiliki visi dan tujuan yang jelas membuat guru yang melakukan paedagogi dituntut untuk lebih aktif dan kreatif untuk membuat proses transfer ilmu pengetahuan berjalan dengan baik dan efektif untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan tiap siswa.


Danim, Sudarwan, (2010), Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta
www.tuanguru.net



Sunday, March 11, 2012

Seni dan Ilmu Mengajar

Seni dan Ilmu Mengajar

Dikatakan bahwa mengajar merupakan seni dan ilmu dalam mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu.

Mengapa disebut seni?

Dan mengapa pula disebut ilmu?

Jika didefinisikan satu persatu, seni sendiri merupakan keahlian untuk membuat karya yang bermutu. Dan ilmu sendiri adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat menjelaskan suatu gelaja dalam bidang ilmu pengetahuan.

Bisa kita cerna bahwa mengapa mengajar membutuhkan seni dan ilmu, karena dalam mentransformasikan bahan ajar, diperlukan keahlian, kekahlian untuk membuat peserta ajar menjadi bermutu melalui pengetahuannya. Membuat mereka menjadi seseorang bermutu tentu membutuhkan cara yang berbeda-beda dan kompleks karena pada dasarnya manusia adalah kompleks. Suatu cara mengajar kepada satu peserta ajar belum tentu cocok saat diberikan kepada yang lainnya. Karenanya dibutuhkan seni daalm metode pentransformasiannya. Seni kreatif penuh improvisasi untuk membuat suasana kelas tidak datar, sehingga bisa terjalin keterikatan emosi antar semua orang dalam kelas, hingga pengajar dapat memberikan motivasi dan dorongan dengan mudah serta efektif kepada peserta ajar.  
Begitu pula dengan ilmu, mengapa mengajar merupakan ilmu, karena dalam mengajar dibutuhkan pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai bahan ajar, pengetahuan mengenai peserta ajar, hingga pengetahuan mengenai situasi belajar. Maka pada saat terjadi proses pentransformasian bahan ajar itu sendiri, tidak hanya semata-mata memberikan bahan ajar, tapi bagaimana pengajar dapat mengemasnya dengan seni dan ilmu yang tepat agar sampai tepat sasaran pula kepada peserta ajar yang bersangkutan. Pengajar hendaknya merupakan orang berilmu dan dapat menghargai keunikan tiap peserta ajar dalam kelasnya. Dikatakan bahwa pengajar berilmu harusnya mencerminkan keterpelajaran, integritas pribadi dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siswa. Dengan demikian diyakini bahwa proses transformasi pengetahuan akan lebih efektif terjadi.

Pada awal memasuki kelas paedagogi semester ini, tiba-tiba peserta kelas paedagogi ini “diolahragakan” dengan permainan lempar-tangkap bola sembari menyatakan alasan kenapa memasuki kelas paedagogi. Terlihat simpel namun sudah terlihat bahwa ada seni dalam pelaksanaannya. Tidak hanya sekedar berdiri satu-persatu, menyatakan alasan, kemudian kelas monoton karena semua saling bosan menunggu selesainya “ritual” tersebut. Kemudian dalam segi ilmu, kelas mulai dikembangkan dengan komunikasi via chat dalam berbagai website. Tiap orang dituntut memiliki ilmu dalam teknologi dan komunikasi. Semua peserta terlibat dalam pencarian ilmu untuk menggunakan system chat tersebut, sehingga kembali ada hal-hal baru yang didapat oleh tiap peserta, juga pengajar.

Karenanya, jelas harus ada seni dan ilmu dalam mengajar.












Danim, Sudarwan, (2010), Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Tuesday, May 17, 2011

Gaya Manajemen Kelas


PERENCANAAN
Pendahuluan
Manajemen atau pengelolaan kelas adalah suatu ketrampilan dan strategi seorang pengajar untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal.  Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika seorang pengajar mampu mengatur anak didik untuk mendapatkan lingkungan  pembelajaran yang positif bagi anak didik dalam strategi untuk mewujudkan nya itulah yang sering  disebut dengan manajemen kelas.
Strategi pendekatan  itu biasanya digunakan untuk mencegah dan menanggapi prilaku yang buruk dari siswa (disiplin). Dulu, kata disiplin itu lebih merujuk atau  mengarah  kepada siswa nya namun sekarang ini, kata disiplin lebih merujuk kepada manajemen kelas yang membuat siswa nya berprilaku buruk atau tidak ( Evertson &  Haris,1993). Kelas yang tidak punya masalah prilaku sama sekali tidak dapat dianggap sebagai kelas yang dikelola dengan baik dan dewasa ini, mereka tidak pernah menganggap bahwa masalah manajemen kelas itu juga merupakan hal yang penting.
Anak didik yang ditata mengikuti kegiatan dengan lingkungan pembelajaran yang positif biasanya akan menimbulkan minat dan motivasi mereka untuk belajar dan mengerjakan tugas mereka. Lingkungan pembelajaran  positif meliputi fisik kelas, waktu yang efektif  dan salah satunya gaya manajemen kelas.
Proses pembelajaran merupakan  interaksi antar anak didik dan lingkungan sehingga pada diri anak  terjadi proses pengelolahan  informasi dengan baik dan  lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh pengajar agar proses pembelajaran menjadi efektif.
Strategi manajemen apakah yang paling sering digunakan untuk menunjang kualitas pendidikan? Topik ini diambil karena banyak guru menggunakan atau tanpa sadar menggunakan  berbagai jenis manajemen kelas yang berbeda – beda bahkan kadang pengajar tidak peduli, sehingga ingin dilihat, gaya apakah yang paling sering digunakan dan bagaimana efeknya terhadap disiplin dan prestasi siswa
Setiap pengajar mempunyai cara yang khas dalam hal mendidik anak didiknya. Begitu juga dengan manajemen kelas. Pada semua level tingkat pendidikan, membentuk sebuah lingkungan positif merupakan hal yang penting bagi siswa untuk mengoptimalkan proses belajar. Lingkungan positif  bisa didapatkan jika menggunakan strategi manajemen kelas yang sesuai dengan kondisi kelas. Oleh karena itu, strategi manajemen kelas harusnya dimiliki oleh seorang pengajar professional.


Landasan Teori
Strategi manajemen itu mencakup dari banyak hal dan salah satu cakupannya yang penting adalah penggunaan gaya manajemen kelas. Gaya manajemen kelas terbagi atas ;
-         Penggunaan gaya otoritatif merupakan strategi manajemen kelas yang mendorong anak didiknya untuk menjadi seorang pemikir dan pelaku yang independen. Guru dengan gaya manajemen kelas  yang otoritatif membuka diri unuk interaksi verbal, termasuk perdebatan yang kritis dengan muridnya. Guru yang memakai gaya pembelajaran ini lebih melibatkan give and take dan bersifat memotoring anak didiknya.
Guru dengan tipe otoritatif memberikan batasan kepada murid dan mengontrolnya, namun juga memberikan kebebasan untuk berekspresi. Guru dengan tipe otoritatif cenderung menjelaskan alasan dibalik sebuah peraturan dan keputusan. Jika ada seorang murid yang menggangu, maka guru akan menegurnya dengan baik, pelan dan sopan namun tetap tegas. Murid – murid megetahui bahwa mereka dapat bertanya/menyela pada guru jika ia mempunyai tanggapan atau pertanyaan yang masuk akal. Lingkungan belajar seperti ini memungkinkan siswa kesempatan untuk belajar dan mempraktekkan keterampilan komunikasi. 








-         Penggunaan gaya otoritarian merupakan strategi manajemen kelas yang lebih fokus untuk menjaga ketertiban kelasnya dibandingkan pengajaran atau pembelajarannya. Penggunaan gaya ini lebih ke arah membuat murid nya pasif atau kurang melakukan percakapan
-         Penggunaan gaya permisif merupakan strategi manajemen kelas yang memberi sikap otonomi pada muridnya namun pemberian dukungan untuk mengembangkan keahlian sang anak sangatlah minim.
-         Penggunaan gaya Laissez-faire, merupakan gaya manajemen kelas dimana guru memberikan perhatian yang sangat sedikit kepada murid-muridnya. Guru dengan gaya manajemen ini sangat tidak ingin melukai perasaan murid-muridnya dan memiliki kesulitan untuk menegakkan peraturan didalam kelas. Saat ada murid yang menggangu didalma kelas, guru akan beranggapan  bahwa murid tersebut kurang perhatian, atau jika ada murid yang menyela penjelasannya, guru tersebut meyakini bahwa ada hal penting yang ingin disampaikan oleh murid tersebut. Jika ada peraturan yang dibuat, biasanya tidak aklan dilakukan dengan konsisten.
Dari gaya manajemen kelas yang terpapar diatas, telah didapat bahwa penggunaan gaya kelas yang lebih efektif adalah gaya manjemen kelas otoritatif dibandingkan penggunaan gaya manajemen kelas dari penggunaan gaya otoritarian, Laissez-faire dan permisif. namun apakah semua pengajar menerapkan gaya pembelajaran otoritatif atau malah sebaliknya mereka menggunakan gaya manajemen kelas otoritarian atu permisif?
Pada poin – poin berikutnya akan dipaparkan hasil proyek penelitian mengenai gaya manajemen kelas apakah yang paling sering dipakai pengajar profesional pada Tingkat SMA di beberapa sekolah di Medan.
Sebenarnya teknik manajemen kelas yang dibahas diatas disadur dari Parenting Styles pada Adolescence (andragogi) yang ditulis oleh seorang ahli pola asuh terkemuka, Diana Baurmind (1996, dalam Santrock, 2009, h.100-101) yaitu :
·      Pola Asuh Otoritarian (Authoritarian Parenting Style)
Gaya pola asuh ini bersifat membatasi dan menghukum, mendesak anak untuk mengikuti kata orangtua mereka, harus hormat pada orangtua mereka, memiliki tingkat kekakuan (strictness) yang tinggi, dan memiliki intensitas komunikasi yang sedikit. Baumrind (1996, dalam Santrock, 2009) menyatakan bahwa anak yang dididik secara otoritarian ini memiliki sikap yang kurang kompeten secara sosial, keterampilan komunikasi yang buruk, dan  takut akan perbandingan sosial. Dengan gaya otoritatif seperti ini anak dimungkinkan memberontak karena tidak terima atau bosan dengan pengekangan. Karena remaja cenderung ingin mencari tahu tanpa mau dibatasi. Dengan pola asuh ini, probabilitas munculnya perilaku menyimpang pada remaja menjadi semakin besar.
·      Pola Asuh Otoritatif (Authoritatve Parenting Style)
Menurut Chadler et al. (2009) gaya pola asuh ini memiliki karakteristik berupa intensitas tinggi akan kasih sayang, keterlibatan orang tua, tingkat kepekaan orangtua terhadap anak, nalar, serta mendorong pada kemandirian. Orangtua yang menerapkan pola asuh seperti ini memiliki sifat yang sangat demokratis, memberikan kebebasan kepada anak tetapi tetap memberi batasan untuk mengarahkan anak menentukan keputusan yang tepat dalam hidupnya. Anak yang dididik dengan pola asuh ini memiliki tingkat kompetensi sosial yang tinggi, percaya diri, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, akrab dengan teman sebaya mereka, dan mengetahui konsep harga diri yang tinggi. Sehinnga Baumrind (1996, dalam Santrock, 2009), pencetus teori ini, sangat mendukung sekali penerapan pola asuh ini di rumah. Karakteristik pola asuh ini dapat mengimbangi rasa keingintahuan remaja. Sehingga proses anak dalam menimbulkan perilaku tindakan antisosial cenderung bisa dibatasi. Karena walaupun anak dibebaskan, orangtua tetap terlibat dengan memberi batasan berupa peraturan yang tegas.
·      Pola Asuh Mengabaikan (Neglectful Parenting Style)
Pola asuh ini bercirikan orangtua yang tidak terlibat dalam kehidupan anak karena cenderung lalai. Urusan anak dianggap oleh orangtua sebagai bukan urusan mereka atau orangtua menganggap urusan sang anak tidak lebih penting dari urusan mereka. Baumrind (1971, 1996, dalam Santrock 2009) menyatakan anak yang diasuh dengan gaya seperti ini cenderung kurang cakap secara sosial, memiliki kemampuan pengendalian diri yang buruk, tidak memiliki kemandirian diri yang baik, dan tidak bermotivasi untuk berprestasi. Dalam konteks timbulnya  perilaku penyimpangan oleh remaja, pola asuh seperti ini menghasilkan anak-anak yang cenderung memiliki frekuensi tinggi dalam melakukan tindakan anti sosial. Karena mereka tidak biasa untuk diatur sehingga apa yang mereka mau lakukan, mereka akan lakukan tanpa mau dilarang oleh siapapun.
·      Pola Asuh Memanjakan (Indulgent Parenting Style)
Pola asuh seperti ini membuat orang tua menjadi sangat terlibat dengan anak-anak mereka. Mereka menuruti semua kemauan anak mereka, dan sangat jarang membatasi perilaku anak mereka. Anak yang dihasilkan dengan pola asuh seperti ini, merupakan anak-anak yang sulit untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri, karena terbiasa untuk dimanja (Diana Baumrind, 1996, dalam Santrock, 2009). Anak-anak ini dapat seenaknya untuk melakukan tindakan perilaku menyimpang, karena terbiasa dengan system “apa saja dibolehkan”. Sehingga kemungkinan timbul dan terulangnya perilaku menyimpang menjadi sangat besar.



Alat yang digunakan
Untuk mendukung terlaksananya penelitian ini, maka digunakan beberapa alat yang membantu proses penelitian ini, yaitu :
o       Telepon Genggam è untuk menelepon subjek
o       Alat tulis è untuk menulis hasil dari wawancara

Jadwal Kegiatan
Tanggal
Kegiatan
28 Maret 2011
Menentukan judul
05 April 2011
Survey ke sekolah yang akan diobservasi
10 Mei 2011
Bimbingan dengan Bu Dina
10 Mei 2011
Revisi Judul
10 Mei 2011
Menetukan teori yang akan digunakan
10 Mei 2011
Menyusun Pendahuluan, Landasan teori
11 Mei 2011
Menyusun pertanyaan untuk wawancara
12 Mei 2011
Pengumpulan data I
13 Mei 2011
Pengumpulan data II
14 Mei 2011
Menganalisis data
14 Mei 2011
Menyusun Pelaporan dan Evaluasi
15 Mei 2011
Membuat Poster
18 Mei 2011
Memposting hasil keseluruhan dari tugas mini proyek yang dikerjakan ke dalam blog

Objek dan Subjek yang diteliti
Sample yang diwawancara untuk penelitian kali ini adalah pengajar bersertifikat yang mengajar di SMA yang tersebar diseluruh kota Medan. Data yang diambil berasal dari 15 subjek yang dipilih secara random dari populasi Guru SMA di Kota Medan.
Analisis data
Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diambil melalui teknik wawancara. Teknik wawancara dipilih karena ingin melakukan analisis kualitatif terhadap topik yang sudah dipilih, yaitu gaya manajemen kelas seperti apa yang digunakan oleh guru bersertifikat pada tingkat SMA di beberapa sekolah di Medan . Alasan lain dipilih teknik ini adalah fleksibilitas dalam hal waktu, kelengkapan jawaban yang diterima karena dapat memperoleh jawaban atas seluruh pertanyaan yang diajukan secara langsung, dapat  dilaksanakan kepada setiap individu tanpa dibatasi oleh faktor usia.  Wawancara yang digunakan adalah wawancara face to face yaitu wawancara yang dilakukan tatap muka dengan sampel dan wawancara telepon (interview telephone) yang memudahkan untuk mendapatkan jawaban secara cepat dan efisien. Bentuk wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur yang menggunakan 12 pernyataan yang terdiri dari 5 kemungkinan jawaban yaitu Sangat Sesuai, Sesuai, Netral, Tidak Sesuai dan Sangat Tidak Sesuai dengan pernyataan 1, 3, 9 yang mengarah kepada gaya belajar otoriter, pernyataan 4, 8 , dan 11 yang mengacu pada gaya otoritatif, pernyataan 6, 10, dan 12 yang mengarah kepada gaya laissez – faire serta pernyataan 2, 5, 7 yang mengarah pada gaya permisif (acuh tak acuh). Hasilnya akan bertotal paling minim 3 dan 15 paling maksimal. Semakin maksimal total nilainya, semakin ke arah itu juga gaya manajemen kelasnya. 






 Data kemudian diolah dengan statistik deskriptif.



Kalkulasi biaya
o       Pulsa =  Rp 20.000

Pelaksanaan

Pengumpulan data pertama dilakukan pada tanggal 12 Mei 2011 terhadap 9 orang guru SMA di Medan menggunakan teknik telephone interview . Wawancara dilakukan sekitar jam 13.00 untuk subjek pertama. Dengan menggunakan speakerphone agar dapat didengar dan lebih mudah menulis jawaban dari subjek, wawancara pun dimulai. Subjek pertama adalah guru dari SMA Raksana Medan. Sebelum memulai memberikan pertanyaan, terlebih dahulu diciptakan atmosfir pembicaraan yang bersahabat bagi subjek dan pewawancara. Setelah itu diajukanlah 12 pertanyaan terstruktur yang sudah disediakan oleh pewawancara. Dibutuhkan waktu selama 30 menit untuk melakukan wawancara dengan subjek pertama. Wawancara dilanjutkan dengan menghubungi subjek kedua yaitu guru dari SMA Trisakti 1 Medan Seperti sebelumnya perlu diciptakan suasana pembicaraan yang nyaman sehingga subjek bisa santai menjawabnya dan memberikan sedikit paparan mengenai studi yang sedang dilakukan. Selanjutnya subjek kedua menjawab 12 pertanyaan terstruktur dengan ringkas dan cepat sehingga hanya dibutuhkan percakapan sekitar 20 menit. Pada pukul 13.50 dilanjutkan wawancara untuk subjek ketiga dan keempat. Subjek ketiga adalah guru dari SMA Wiyata Dharma Medan , sedangkan subjek keempat mengajar dari SMA Raksana Medan Wawancara dilakukan hampir sekitar 40 menit juga, hampir sama dengan subjek pertama. Wawancara dihentikan sementara untuk makan siang dan dilanjutkan kira – kira satu setengah jam kemudian. Wawancara dilanjutkan dengan menghubungi subjek kelima yang mengajar dari SMA Santa Maria Medan dan subjek keenam juga yang mengajar di SMA Santa Maria Medan. Subjek sangat bersahabat dalam hal menjawab ke-12 pertanyaan yan diberikan pewawancara sehingga wawancara dapat dilakukan dengan lancar. Pukul 16.30, pewawancara mulai mewawancarai subjek ketujuh yang mengajar di SMA ST.Thomas 2 Medan. Butuh waktu yang cukup lama untuk subjek kali ini karena subjek menanyakan lebih detail mengenai wawancara, namun akhirnya dapat terselesaikan dalam waktu 1 jam. Wawancara melalui telepon terakhir dilakukan pada pukul 17.30 terhadap dua subjek terakhir yaitu guru dari SMA Methodist 8 Medan dan guru dari SMA Methodist 7 Medan. Wawancara dimulai dengan cukup lancar karena gurunya juga bersahabat dan ramah ketika menjawab 12 pertanyaan yang diberikan pewawancara, sehingga wawancara dengan telepon dapat diselesaikan sekitar pukul 18.05. Setelah itu pewawancara kembali kerumah masing – masing pukul 18.30.
Pengumpulan data kedua dilakukan dengan wawancara face to face. Wawancara dilakukan terhadap enam orang guru dari SMA.Eka Prasetya Medan pada sekitar pukul 13.00 WIB setelah berakhirnya jam belajar mengajar di sekolah tersebut. Wawancara  berlangsung dengan cukup lancar, dimana para guru tersebut diwawancarai satu persatu oleh kelompok dengan 12 pertanyaan yang sama seperti guru-guru yang sebelumnya di wawancara dengan sistem telephone interview. Wawancara terhadap keenam guru tersebut memakan waktu sekitar tiga jam dan berakhir pada pukul 16.10 WIB.

Pelaporan dan  Evaluasi
Dari 15 subjek yang diwawancara mengenai gaya manajemen kelas, ditemukan bahwa :
·        Gaya manajemen kelas otoritatif adalah gaya manajemen kelas pertama yang paling sering digunakan oleh guru Sekolah Menengah Atas Swasta di Medan, dibuktikan dari hasil wawancara yang dilakukan, dimana 14 dari 15 guru cenderung memiliki gaya manajemen kelas yang otoritatif
·        Gaya manajemen kelas otoritatif adalah gaya manajemen kelas kedua yang paling sering digunakan oleh guru Sekolah Menengah Atas Swasta di Medan, dibuktikan dari hasil wawancara yang dilakukan, dimana 1 dari 15 subjek cenderung memiliki gaya manajemen otoritarian
·        Gaya manajemen Laissez-faire dan permisif merupakan gaya yang paling jarang digunakan oleh guru Sekolah Menengah Atas Swasta di Medan, dibuktikan dari hasil wawancara yang dilakukan, dimana tidak ada seorangpun guru yang cenderung memiliki gaya manajemen kelas Laissez-faire atau permisif.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, ditarik kesimpulan bahwa strategi/gaya manajemen  kelas yang paling sering digunakan oleh guru SMA Swasta di kota Medan adalah gaya manajamen kelas otoritatif.
Evaluasi
Dalam pelaksanaan mini proyek yang dilakukan oleh kelompok, terdapat beberapa yang tidak sesuai dengan perencanaan pada awalnya. Jika pada awalnya proyek yang direncanakan oleh kelompok adalah untuk melihat perbandingan antara motivasi dan hasil belajar siswa, pada prekteknya karena terdapat banyak hambatan pada pelaksanaannya yang sudah hampir 30%. Karenanya proyek dengan judul tersebut dihentikan oleh kelompok. Kemudian kelompok mengganti judul penelitiannya. Namun pada kenyataannya setelah topik ini didiskusikan dengan pengampu mata kuliah ini yaitu Bu Dina,ternyata banyak sekali kekurangan dalam pemilihan judul tersebut. Karenanya diambillah keputusan oleh kelompok untuk kembali merubah judul penelitian. Dan akhirnya dipilihlah judul penelitian “Gaya Manajemen Kelas” ini. Perubahan judul yang berkali-kali ini sangat berdampak pada waktu penelitian yang semakin lama semakin sempit. Kemudian, saat dilaksanakannya pengambilan data, yang diharapkan oleh kelompok adalah agar bisa mewawancarai secara langsung semua guru yang terlibat dalam penelitian ini. Namun dikarenakan oleh beberapa faktor seperti ketidakcocokan jadwal dan lainnya, maka kepada guru-guru yang tidak dapat ditemui secara langsung oleh kelompok, dilakukanlah telephone interview. Pada akhirnya memang kekurangan disana-sini sangat dirasakan oleh kelompok. Karenanya akan terus dilakukan pembelajaran dan evaluasi oleh kelompok ini agar nantinya dapat menghasilkan penelitian yang lebih baik dan berguna.

Poster




Testimoni        :
Kelompok : Ini merupakan tugas pertama kami melakukan penelitian yang berhubungan dengan pendidikan,penuh lika-liku hingga akhirnya menemukan judul penelitian yang tepat untuk kelompok kami. Perjuangan berlanjut dimana kami harus mewawancarai guru - guru, menganalisis hasil wawancara, sampai akhirnya membuat poster. Namun dibalik semua itu tersimpan pengalaman berharga yang dapat membantu kami untuk melakukan peneltian - penelitian yang selanjutnya. Dari segi topik, melalui penelitian kali ini bahwa guru - guru di Medan kebanyakan menggunakan teknik otoritatif dibanding ketiga teknik lainnya.
-Irene Anastasya : Tugas ini sangat menarik, tugas pertama yang membuat saya dan teman kelompok harus mewawancara orang dan mengolah datanya agar mendapatkan hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang dibahas.  Tugas yang sangat menantang, dan membutuhkan konsentrasi dan komitmen dalam pengerjaannya.
-Putri Mayritza  : Salah satu tugas tersulit yang pernah saya buat. Bukan karena tidak tahu bagaimana mengerjakannya, namun lebih ke arah revisi judul dan isi yang sampai berkali - kali. Saya dan 2 orang teman saya selaku kelompok harus ekstra keras untuk menyelesaikan tugas ini tepat waktunya, dan Puji Tuhan berhasil. Selain itu saya juga jadi mengetahui bahwa ternyata gaya manajemen kelas yang paling populer atau yang paling banyak digunakan di SMA swasta di Medan.
-Yohanti Viomanna : Tugas yang menyita penuh perhatian terutama saat harus berinteraksi dengan guru-guru SMA. Sangat berkesan karena harus mengambil data dari orang-orang baru dan juga karena harus berkali-kali merevisi judul penelitian sebelum akhirnya menetapkan judul penelitian ini. Pembuatan posternya juga sangat menantang karena belum pernah mengerjakan hal itu sebelumnya. Intinya tugas ini membawa kami untuk mengerjakan hal-hal baru yg belum pernah dilakukan sebelumnya.






Daftar Pustaka::
SANTROCK, JOHN.W. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta : Kencana ,2010

Tuesday, May 10, 2011

Metode pengajaran dalam Perguruan Tinggi

Beberapa metode mengajar yang dapat divariasikan oleh pendidik diantaranya : 

1. Metode Ceramah (Preaching Method) 

Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa. 

Beberapa kelemahan metode ceramah adalah : 

a. Membuat mahasiswa pasif 

b. Mengandung unsur paksaan kepada mahasiswa 

c. Mengandung daya kritis mahasiswa ( Daradjat, 1985) 

d. Mahasiswa  yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan mahasiswa yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. 

e. Sukar mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar mahasiswa. 

f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). 

g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 

Beberapa kelebihan metode ceramah adalah : 

a. Dosen mudah menguasai kelas. 

b. Dosen mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar 

c. Dapat diikuti mahasiswa dalam jumlah besar. 

d. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 

2. Metode diskusi ( Discussion method ) 

Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ). 

Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk : 

a. Mendorong mahasiswa berpikir kritis. 

b. Mendorong mahasiswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas. 

c. Mendorong mahasiswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama. 

d. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama. 

Kelebihan metode diskusi sebagai berikut : 

a. Menyadarkan mahasiswa bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan 

b. Menyadarkan mahasiswa bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik. 

c. Membiasakan mahasiswa untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut : 

a. tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar. 

b. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas. 

c. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara. 

d. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 

3. Metode demontrasi ( Demonstration method ) 

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000). 

Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000). 

Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah : 

a. Perhatian mahasiswa dapat lebih dipusatkan . 

b. Proses belajar mahasiswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari. 

c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri mahasiswa (Daradjat, 1985) 

Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut : 

a. Membantu mahasiswa memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda. 

b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan . 

c. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 

Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut : 

a. mahasiswa terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan. 

b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan 

c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh dosen yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 

4. Metode ceramah plus 

Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu : 

a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT). 

Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas. 

Metode campuran ini idealnya dilakukan secar tertib, yaitu : 

1). Penyampaian materi oleh dosen. 

2). Pemberian peluang bertanya jawab antara dosen dan mahasiswa. 

3). Pemberian tugas kepada mahasiswa 

b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT) 

Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas. 

c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL) 

Metode ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill) 

5. Metode resitasi ( Recitation method ) 

Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana mahasiswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri. 

Kelebihan metode resitasi sebagai berikut : 

a. Pengetahuan yang mahasiswa peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama. 

b. mahasiswa berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 

Kelemahan metode resitasi sebagai berikut : 

a. Terkadang mahasiswa melakukan penipuan dimana mereka hanya meniru hasil pekerjaan temennya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri. 

b. Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan. 

c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 

6. Metode percobaan ( Experimental method ) 

Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000) 

Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya di Laboratorium. 

Kelebihan metode percobaan sebagai berikut : 

a. Metode ini dapat membuat mahasiswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata dosen atau buku. 

b. mahasiswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi. 

c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. 

Kekurangan metode percobaan sebagai berikut : 

a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap mahasiswa berkesempatan mengadakan ekperimen. 

b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, mahasiswa harus menanti untuk melanjutkan pelajaran. 

c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi. 





Daftar Pustaka:



Sukadji,S.2000. Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah.Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.




Powered by Blogger.